Senin, 14 September 2015

pilihan terbaikku



Sabtu, 12 September 2015 23.25 WITA

Entah apa sebenarnya yang ada dalam pikiranku saat ini. Rasanya benar-benar kacau. Sungguh membosankan. Siang hari masih tetap sama dengan yang terjadi sejak beberapa waktu belakangan dan seharusnya sore  tadi pergi ibadah youth service tetapi kenyataannya saya tidak pergi. Entah apa yang saya pikirkan. Rasa ngantuk dan malas yang mendera benar-benar membuatku menjadi orang yang sangat menyeramkan. Kapan aku bebas dari keadaan seperti ini Bapa??????
Aku sebenarnya ingin mengerjakan sesuatu yang aku sukai sambil aku juga mendapatkan keuntungan dari dalamnya. Tapi sudah sangat lama aku memohon namun hingga kini belum ada titik terangnya. Entah apa yang akan kuhadapi esok dan esoknya lagi. Aku sangat bosan dengan situasi seperti ini. Banyak hal yang aku ridukan dari kehidupanku beberapa waktu belakangan.
Aku tidak akan menyesali sedikitpun segala kesalahan yang telah aku lakukan dimasa lalu. Itu hanya akan memperburuk keadaanku. Yang ada sekarang adalah bagaimana menata hidup yang sekarang. Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana, dan bagaimana caranya??
Apakah karena rumor mengenai kiamat yang akan segera datang sehingga aku tidak diperkenankan untuk melakukan sesuatu untuk menghasilkan uang dan sedikit mengurangi beban orangtuaku???. Sebenarnya hanya itu yang aku inginkan sehingga aku berdoa untuk bisa memiliki pekerjaan. Ya,, untuk sedikit mengurangi beban orang tuaku. Aku sudah terlalu jahat selalu membebani mereka. Tak apa seandainya aku pergi kuliah tapi kan nggak. Jadi harus bisa mandiri atau yang sering orang istilahkan dengan BERDIKARI
Aku selalu berharap saat malam tiba bahwa esok akan selalu dan pasti lebih baik dari hari ini. Meski kadang sebenarnya sama saja. Tidak ada yang berbeda. Yaa,,, kata-kata itu menurutku adalah hanya sebuah penghiburan bagi jiwa yang rapuh. Yaa,,, seperti saya ini.
Memang membosankan menjalani hidup seperti ini. Tapi apa yang bisa saya lakukan untuk merubahnya. Saya tidak tahu. Ditambah lagi saat ini orang yang selama setahun terakhir selalu meminta saya agar dia menjadi pacar saya, dia muncul kembali sekitar dua hari yang lalu. Dengan pertanyaan yang sama. Saya sebenarnya bingung. Ini orang apa tidak bosan yaa ngomong itu sama saya. Padahalkan jawaban saya akan selalu sama dan tidak akan pernah berubah. Saya tetap berkata TIDAK. Bukan apanya. Tapi kami berbeda keyakinan. Saya tidak mau untuk kedua kalinya mengingkari omongan saya sendiri. Karena memang dari awal sejak saya mulai menyukai yang namanya laki-laki, saya sudah tanamkan dalam pikiran saya bahwa tidak akan pernah memiliki hubungan dengan orang yang berbeda keyakinan dengan saya. Saya sudah pernah mengingkari itu sekali. Dan ujungnya saya yang merasakan sakit hati. Jadi saya tidak akan pernah mengulanginya. Meskipun dia mencoba untuk meyakinkan saya bahwa dia tidak akan melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan temannya sama saya. Ohya,, sekedar informasi bahwa pria yang membuat saya mengingkari omongan saya sendiri dengan dia yang meminta untuk memiliki hubungan dengan saya. Mereka berdua adalah teman. Lebih tepatnya teman sejak kecil. Tapi dari kejadian kemarin saya belajar untuk tidak percaya apapun kata-kata manis yang diutarakan oleh para pria hanya untuk membuat saya melayang-layang di udara. Karena bahagia dengan segala macam rayuan yang tidak jelas dari mereka. Akan tetapi pada akhirnya mereka menyakiti saya. Dan saya paling tidak suka dengan orang yang berkata dusta. Karena saya sendiri takut untuk berkata dusta. Itulah sebabnya saya percaya saja jika ada yang mengatakan sesuatu sama saya. Ternyata saya salah menilai orang. Tidak semua orang yang luarnya kelihatan sempurna adalah memang baik adanya. Tampang memang sangat meyakinkan. Tapi kenyataannya berbeda. Mungkin juga dalam hubungan tersebut saya melakukan banyak kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak. Tapi saya selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Namun, mungkin memang takdir tak merestui kami. Dan kini saya juga bersyukur bahwa kami memang benar-benar telah berpisah.
Jadi untuk Anda yang saya maksudkan, maaf banget saya benar-benar tidak bisa memiliki hubungan yang lebih dari teman dengan anda. Perbedaan yang ada diantara kita bagiku sangat besar, dan tidak akan pernah bisa menyatu. Apapun alasannya. Saya tetap pada pendirian saya. Meskipun menurut anda itu tidak masalah sama sekali. Tapi dalam hal itu sangat tidak akan pernah merubah keputusan saya. Memang saya berdoa, bahwa saya membutuhkan teman disisi saya. Dua kriteria yang saya inginkan. Pertama, bahwa dia yang bisa menuntun saya semakin mengenal Sang Juruselamat saya, artinya bahawa dia seiman dengan saya. Dan tidak cukup sampai disitu. Dia juga sangat mengerti tentang firman agar bisa menuntun saya. Yang kedua, yaitu dia yang mungkin memang beragama Kristen seperti saya. Tapi belum hidup sebagaimana orang kristen menjalani kehidupan. Dan mungkin juga orang kedua ini adalah dia yang bukan orang Kristen namun berniat untuk mempelajari mengenai Kristen. Dan sekali lagi maaf,, anda tidak termasuk dalam kriteria manapun. Jadi, sebaiknya kita berteman saja.
Mungkin saya tampak seperti monster yang menakutkan dengan berbicara seperti ini. Tapi inilah saya. Dan inilah yang saya rasakan. Saya memang bukan perempuan yang memiliki kelembutan hati. Saya tidak ingin menjalani sesuatu yang saya tidak suka. Karena saya sangat tidak nyaman jika memaksakan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan saya. Jadi silahkan cari orang lain yang mau menerima kamu dengan segala persamaan dan perbedaan. Serta yang mau mencintaimu bukan dengan apa adanya kamu.
Sekian dan terima kasih. BERTI SANDANA

Tidak ada komentar:

Posting Komentar